Bagaimana perempuan Sunda direpresentasikan ketika cerita lisan dan sastra tulis dialihwahanakan ke layar film? Apakah makna tentang perempuan tetap bertahan, atau justru mengalami pergeseran seiring perubahan medium dan zaman?
Buku ini mengkaji representasi perempuan dalam film Sunda hasil ekranisasi melalui pembacaan kritis berperspektif gender. Ekranisasi dipahami sebagai proses transformasi makna yang tidak hanya memindahkan cerita, tetapi juga menegosiasikan nilai, ideologi, dan pandangan tentang perempuan dalam konteks sosial-budaya yang berbeda.
Melalui kajian atas Lutung Kasarung (1983), Halimun (1982), dan Before, Now, and Then (Nana) (2022), buku ini menelusuri perubahan cara perempuan diposisikan, divisualisasikan, dan dimaknai, dari ranah tradisi hingga modernitas. Analisis lintas teks dan medium ini membuka ruang refleksi tentang hubungan sastra, film, budaya, dan identitas perempuan Sunda yang terus bergerak dan dinegosiasikan.
Buku ini mengajak pembaca meninjau ulang cara pandang terhadap perempuan, tidak sebagai representasi yang statis, melainkan sebagai konstruksi budaya yang hidup dan senantiasa berubah.





